Wednesday, September 17, 2014

Persimpangan

Kegetiran itu kubaca pada laman facebookmu, suatu ketika: pada sebuah persimpangan, seseorang harus memilih, apakah hendak menanti hingga ia bisa meneruskan perjalanan, atau segera berbelok dan memutuskan untuk berganti tujuan.

Waktu itu aku dan kamu telah memutuskan untuk saling setia. Walaupun akhirnya aku pindah tugas dan kita menjadi karib dengan jarak, kita sudah bersepakat akan selalu memelihara cinta. Aku percaya, kamu juga, bahwa aku takkan pergi untuk selamanya. Keberangkatanku pada saat kamu mengantarku ke bandara aku gadai dengan selarik puisi dari penyair kesukaanku.

Mercusuar

Aku mengingat sebuah mercusuar ketika hari beranjak petang. Aku membayangkan sebuah mercusuar lengkap beserta langit malam dan gemuruh ombak. Beberapa kapal mendekat, beberapa yang lain hanya lewat. Tetapi semuanya tidak melepaskan komunikasi dengan penjaga mercusuar agar tak tersesat atau bahkan mengalami kecelakaan: karam dan tenggelam. Kau pasti bisa melihatnya, parade cahaya yang sungguh megah di tengah laut, di antara perasaan was-was dan rasa takut.

Mercusuar merupakan isyarat bahwa di dalam gelap selalu ada tempat untuk menyandarkan harap.

Semoga Kau Berbahagia

Kudengar kau bicara
Perolehan cinta
:tentang sepotong perasaan gembira
tentang obat dari semua duka                                        
Kudengar kau simpan asa
Seperti Sita menanti kijang buruan
Rama
Sambil berdiam kaupanjatkan
doa
Memohon waktu tak berdusta
Memunculkan Rahwana
Membawa pergi segala tawa
Tentu aku menyumbang doa
Padamu
Perempuan yang aku puja
Semoga
kau selalu bahagia
Tapi jika akhirnya patah hati
dan kecewa yang kautemui
Hubungiku saja
Mungkin aku masih ada di tempat yang sama


Ini Adalah Caraku Mengucapkan Selamat Kepadamu

- untuk A yang sedang berada dalam perjalanan menjemput masa depan

 ***

Mungkin kini kamu adalah seorang perempuan di antara banyak perempuan lain yang sedang duduk di dalam bus kota. Lampu kendaraan dimatikan, gelap telah dinyalakan. Sedang kamu mulai menatapi pinggiran kaca yang lembab oleh bekas hujan: tenggelam dalam lamunan. Tenggelam dalam dunia penuh kesendirian.

Kartu Pos dari Kawan

Saya pikir, kemajuan teknologi dalam satu segi juga bisa berarti mengurangi keintiman komunikasi. Dulu saya biasa menyimpan beberapa pesan singkat yang sangat berkesan di telepon genggam sebagai sarana nostalgia di kemudian hari. Ketika muncul berbagai media komunikasi di ponsel pintar, kebiasaan tersebut perlahan hilang.

Agak sedih sebetulnya informasi-informasi lama yang ingin saya simpan segera terhapus informasi sampah yang makin bertumpuk di aplikasi chat demi sebuah alasan agar tidak tertinggal berita.

raison d’ĂȘtre

Aku suka membolak-balik halaman buku dengan acak. Kadang, aku kembali pada halaman depan setelah begitu jauh membaca. Kali lain, aku melewatkan banyak halaman tanpa membacanya sama sekali. Menurutku begitulah cara paling asyik untuk menikmati sebuah bacaan.

***

"Kalau begitu, kamu takkan pernah paham apa isi dari halaman yang telah kamu lewatkan."

"Untuk apa? Kita toh tak harus mengetahui setiap detil hal di dunia ini. Bukankah