Wednesday, September 17, 2014

Persimpangan

Kegetiran itu kubaca pada laman facebookmu, suatu ketika: pada sebuah persimpangan, seseorang harus memilih, apakah hendak menanti hingga ia bisa meneruskan perjalanan, atau segera berbelok dan memutuskan untuk berganti tujuan.

Waktu itu aku dan kamu telah memutuskan untuk saling setia. Walaupun akhirnya aku pindah tugas dan kita menjadi karib dengan jarak, kita sudah bersepakat akan selalu memelihara cinta. Aku percaya, kamu juga, bahwa aku takkan pergi untuk selamanya. Keberangkatanku pada saat kamu mengantarku ke bandara aku gadai dengan selarik puisi dari penyair kesukaanku.



Jarak itu sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan.

Keteguhan yang kamu tunjukkan membuatku yakin kamu akan selalu menungguku kembali. Untuk sementara kubiarkan jarak menjadi sebuah jeda, sebuah perhentian agar kita beristirahat dalam perjalanan. Toh selama didekatkan oleh perasaan, penantian masing-masing dari kita cuma simbol yang semakin mengekalkan arti sebuah pertemuan.

Tapi kalimat yang kamu muntahkan melalui media sosialmu itu seakan menyadarkanku, bahwa ada masa ketika seseorang akan lelah dan tidak punya pilihan lain kecuali menyerah. Aku paham bahwa kamu mulai ragu dan merasa dibiarkan dalam kesendirian. Semua usahaku untuk meyakinkanmu tak berdaya di hadapan kesabaran yang mulai luruh oleh waktu. Pada persimpangan ini yang bisa aku lakukan hanyalah memberimu kebebasan untuk menentukan pilihan.

Persimpangan membuka berbagai kemungkinan, termasuk peluang terjadinya sesuatu yang sama sekali tidak kita harapkan.

Hak memilih yang aku berikan ternyata kamu tangkap sebagai sinyal perpisahan. Kamu yang sedang bimbang pun menganggap aku telah meninggalkanmu. Kemudian kamu berpikir untuk berhenti dan memotong ikatan yang telah kita bangun setahap demi setahap. Bukankah tidak ada yang lebih menyedihkan ketimbang perpisahan yang diakibatkan oleh kesalahpahaman macam ini?

Setelahnya aku hanya dapat merenungi kebodohanku sendiri. Kini hariku di tanah rantau diisi sepi demi sepi. Tanpa hadirnya nada dering telepon darimu. Tanpa ucapan selamat pagi dan gelayut rindu. Semua dosa berada di pundakku dan penyesalan yang menjadi satu paket hadir bersamaan dengan itu.

Mungkin akan berat mengakui ini. Aku dan kamu telah berpisah jalan pada satu persimpangan di belakang. Tetapi aku masih berharap di masa depan aku akan kembali bersimpang jalan denganmu. Merekatkan kembali hubungan yang terlanjur kita sudahi di masa lalu. Melanjutkan perjalanan, berdua. Sebagai kita. Sebagai cinta…

0 comments:

Post a Comment